Commemoration Events Of The World Day Against Child Labour (WDACL), 2025
18 June 2025
SPRPA : Solusi Penanganan Pekerja Anak dengan Data
8 July 2025
Commemoration Events Of The World Day Against Child Labour (WDACL), 2025
18 June 2025
SPRPA : Solusi Penanganan Pekerja Anak dengan Data
8 July 2025

Dari Jakarta ke Agam: Suara Anak Kebun Sawit untuk Indonesia Tanpa Pekerja Anak

AGAM, SUMATERA BARAT –  Peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak tidak hanya berlangsung di Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Pesan-pesan penting tentang perlindungan anak juga menggema dari kebun-kebun sawit, seperti yang dilakukan bersama anak-anak kebun PT AMP Plantation, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Wilmar International Indonesia, serta Pemerintah Kabupaten Agam, PAACLA Indonesia, dan Forum Anak Kabupaten Agam,  berpartisipasi aktif dalam kegiatan Panggung Ceria dan Kampanye Bersama bertajuk “Ceria Bersama Anak-anak Kebun Sawit”. Kegiatan ini menjadi bagian dari kampanye global World Day Against Child Labour (WDACL) 2025, sekaligus ruang ekspresi dan edukasi bagi anak-anak desa sekitar kebun sawit. 

Hadir dalam kegiatan ini perwakilan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, jajaran pengurus GAPKI pusat dan GAPKI Cabang Sumatera Barat, pihak manajemen PT AMP Plantation, serta tokoh-tokoh masyarakat dan mitra pembangunan lainnya. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala DPPPAPPKB Kabupaten Agam, Surya Wendri, yang menyampaikan pentingnya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

“Anak-anak adalah masa depan kita. Mereka berhak untuk belajar, bermain, dan bermimpi di lingkungan yang aman dan bebas dari eksploitasi. Kolaborasi seperti ini menunjukkan komitmen nyata dunia usaha untuk menjadi bagian dari solusi,” ujarnya.

Foto: Orasi Perwakilan Anak, menyampaikan tentang situasi pekerja anak di Indonesia

Lebih dari 300 anak-anak dari desa sekitar kebun ambil bagian dalam kegiatan ini. Mereka menampilkan beragam pertunjukan, mulai dari tari daerah (Minang, Batak, Nias, dan Melayu), pantomim, vocal solo dan grup, puisi, hingga dongeng anak. Selain itu, ditampilkan juga film pendek SIRA hasil kolaborasi antara GAPKI dan PAACLA Indonesia. Kampanye bersama dan orasi dari para pemangku kepentingan, termasuk perwakilan anak, menjadi puncak acara yang menggugah kesadaran bersama tentang pentingnya menghapus praktik pekerja anak di sektor perkebunan.

Foto: Orasi dari PAACLA Indonesia yang disampaikan oleh Misran Lubis, Project Manager ACCLAIM

Bagi PAACLA Indonesia, kegiatan ini tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga momentum untuk memperkuat praktik baik di tingkat tapak, khususnya dalam memperluas inisiatif Sawit Indonesia Ramah Anak (SIRA). Selama enam tahun terakhir, PAACLA Indonesia mendorong model kemitraan multipihak dari perusahaan dan pemerintah daerah dalam mencegah dan menangani pekerja anak di sektor pertanian, serta pentingnya pemenuhan hak-hak anak. 

Menjelang puncak acara Panggung Ceria, PAACLA Indonesia mengadakan diskusi kelompok terfokus (FGD) bersama Forum Anak Kebun. Kegiatan ini difasilitasi oleh Maria Clara Bastiani, Direktur Eksekutif JARAK, yang menjelaskan tentang hak-hak anak serta memperkenalkan buku saku khusus yang dirancang agar anak-anak lebih mudah memahami isu pekerja anak. Buku ini menggunakan bahasa sederhana dan mengajak anak-anak untuk mengenali hak mereka seperti hak untuk belajar, bermain, dan tumbuh dengan bahagia.

Selain itu, Misran Lubis, selaku Project Manager ACCLAIM, juga memfasilitasi sesi perumusan aspirasi. Dalam sesi ini, anak-anak didorong untuk menyuarakan pendapat dan harapan mereka sebagai bagian dari Forum Anak Kebun, demi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih baik.

Foto: FGD dengan Forum Anak Kebun PT AMP Plantation

Dengan semangat kolaborasi, PAACLA Indonesia berharap kegiatan seperti ini bisa terus ditumbuhkan di berbagai wilayah Indonesia. Anak-anak desa kebun sawit, seperti di Agam ini, juga memiliki suara, mimpi, dan hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang tanpa harus bekerja di usia dini.

Indonesia Emas 2045 tanpa pekerja anak bukan hanya visi, tapi komitmen yang kita bangun bersama, dari desa ke desa, dari kebun ke kebun.

Kontributor: Mia Melinda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *