Hadapi Tahun Ajaran Baru, Pendidikan Kita Harus Berbenah!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Bincang Daring, 30 April 2021. Kondisi pandemi yang terjadi setahun ini membuat kita semua, pegiat perlindungan anak, para pendidik, birokrasi, sektor bisnis, orangtua dan seluruh elemen yang berkaitan dengan anak harus memberikan perhatian serius pada anak, terutama masalah pendidikan mereka.  Hal ini harus kita lakukan agar anak tidak mengalami loss learning, penurunan kemampuan belajar karena faktor dari luar diri anak.  Selain itu, jumlah perkawinan anak dan kondisi pekerja anak akan semakin buruk jika kita gagal memperhatikan sistem pembelajaran anak di situasi pandemi ini. Pekerja anak harus kembali mengenyam pendidikan,  demikian disampaikan  Mahatmi P. Saronto, Direktur Ketenagakerjaan dan Perluasan Kesempatan Kerja, Bappenas,  dalam sambutannnya di acara Talkshow Virtual,  PJJ: Bagaimana Pekerja Anak Mengakses Pendidikan? yang diselenggarakan oleh PAACLA Indonesia dan JARAK, Jumat, 30 April 2021, dalam rangkaian peringatan Hari Buruh 1 Mei dan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei.

Jumlah anak putus sekolah di masa sebelum pandemi saja sudah tinggi, apalagi saat pandemi melanda Indonesia. Hasil pemantauan KPAI di 20 kabupaten/ kota diperoleh angka putus sekolah makin melonjak karena alasan anak bekerja dan pernikahan anak. Mereka tidak mampu mengikuti pembelajaran jarak jauh karena terkendala akses internet, tidak mempunyai gawai dan kuota, serta ketidakmampuan orang tua mendukung pola belajar yang baru ini, disampaikan Ai Maryati Sholihah, Komisioner Bidang Trafiking dan Eksploitasi (KPAI).

Rezanti Putri (SMERU) menyampaikan temuan riset Juni 2020 mengenai kesenjangan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi anak-anak di wilayah kota dan desa, juga mengkonfirmasi kondisi sulit dihadapi oleh seluruh komponen meliputi anak, pendidik, dan orang tua. Keharusan beradaptasi dengan teknologi membuat sebagian besar anak mengalami kebingungan bagaimana cara belajar secara mandiri, para guru harus mempersiapkan materi ajar yang sesuai dengan kondisi anak, dan orang tua harus turut mendampingi anak belajar di rumah guna mendukung sistem PJJ ini.

Testimoni dari anak-anak yang berpartisipasi pada talkshow ini menyatakan mereka bosan dengan PJJ. Anak-anak tidak bisa belajar efektif  pada materi pelajaran tertentu yang sulit dipahami hanya mengandalkan metode daring, seperti pelajaran Matematika dan Kimia. Kedua mata pelajaran tersebut tidak mungkin mereka tanyakan pada orangtua mereka yang sehari-hari bekerja di sawah dan pada umumnya hanya berpendidikan tingkat sekolah dasar. “Itu mata pelajaran yang sulit, harus tatap muka, ada praktik-praktik langsung, dan kami bosan karena tidak ada interaksi dengan teman dan para guru, menjadi alasan kuat mereka agar pembelajaran bisa kembali dengan pola tatap muka (PTM),“ ungkap  Nifsi, salah seorang anak dari Lombok-NTB, dampingan Yayasan SANTAI yang mengikuti Zoom sambil mengasuh keponakannya.

Sharing pengalaman dari para pendamping anak memberikan harapan baru pada pola pembelajaran bagi anak-anak termasuk para pekerja anak. Disampaikan STAPA Center dan PKPA bahwa keberadaan community learning di desa-desa bisa menjadi pilihan anak belajar saat ini. Bertanya pada tutor atau kakak pendamping mengurai kebingungan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Terlebih lagi di pusat kegiatan belajar anak-anak bisa mendapatkan keterampilan baru seperti membuat kerajinan dan bisa berinteraksi dengan teman sebaya dengan penerapan protokol kesehatan.

Sebagai salah satu solusi, Retno Listyarti, Komisioner Bidang Pendidikan (KPAI) menekankan bahwa PTM bisa dicoba untuk dilakukan dengan tetap dikolaborasi dengan sistem PJJ agar anak bisa merasakan belajar dengan guru, terutama untuk materi yang sulit diajarkan secara daring. Beberapa sekolah di wilayah Jakarta dan Jatim telah siap melakukan pola PTM dengan menjadwalkan kehadiran siswanya agar tidak terjadi kluster penyebaran yang baru.

Protokol kesehatan menjadi hal yang utama sebagai upaya pemenuhan hak dasar anak, hak hidup. Kita harus memastikan anak-anak sehat, lingkungan sekolah aman sehingga mereka bisa kembali ke sekolah untuk mendapatkan hak pendidikannya. Menjadi refleksi kita semua bahwa belajar ini harus diletakkan sebagai kebutuhan dasar anak agar mereka siap menjadi penggerak bangsa ini. (Seknas PAACLA)

Selamat Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional

“Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar”