WIGATRA: SAWIT KELUARGA TANGGUH DAN RAMAH ANAK

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Seminar Nasional “Memotret Situasi Anak Petani Sawit Skala Kecil dan Pengembangan Kesejahteraan Keluarganya dalam Mewujudkan Perkebunan Kelapa Sawit Tangguh dan Ramah Keluarga”

Jakarta, 14 Desember 2020

Setelah melakukan studi tentang “Situasi dan Kondisi Anak yang Tinggal di Perkebunan Kelapa Sawit Khususnya di Desa Pekebun Sawit Skala Kecil” yang bertujuan sebagai upaya validasi dampak industri kelapa sawit terhadap pemenuhan kepentingan terbaik bagi anak. Selanjutnya fakta-fakta yang terkumpul dianalisis dan menghasilkan konsep “Kerangka Ketangguhan dan Praktik Pertanian “Ramah Keluarga” (Familly Friendly and Resillience Farming). Untuk memperkuat kerangka ketangguhan ini maka dibutuhkan masukan-masukan dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) tingkat daerah dan nasional. Yayasan PKPA dengan dukungan dari ICCO Cooperation melalui program Civic Engagement Alliance (CEA) dan UNICEF Indonesia berkolaborasi dengan PAACLA Indonesia (Partnership for Action Against Child Labour in Agriculture)  dan Kementerian PPN/Bappenas menyelenggarakan Seminar Nasional guna mempresentasikan panduan aksi ketangguhan dan ramah keluarga bagi petani sawit skala kecil kepada stakeholder untuk mendapatkan masukan-masukan memperkuat aksi konkrit bahwa

Dalam sambutan pembukaan, Mahatmi P. Saronto, Direktur Ketenagakerjaan, Bappenas menyampaikan bahwa studi yang dilakukan ini sinergi dengan tujuan nasional untuk mewujudkan SDM yang tangguh dan berdaya saing. Kajian ini memotret pemenuhan hak anak yang berada di lokasi yang jauh dari akses, merupakan tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam memastikan layanan dasar dan mendapatkan kesempatan yang sama dengan wilayah yang lebih terjangkau askesnya.

Seminar Nasional ini dilakukan secara online tanggal 14 Desember 2020. Lebih dari 90 peserta bergabung dalam Seminar Nasional ini dan saling memberikan masukan terkait upaya mewujukkan keluarga petani yang tangguh dan ramah anak. Keumala Dewi selaku Direktur Eksekutif PKPA menjelaskan analisis hasil studi tentang status kehidupan anak dan keluarga pada masyarakat petani sawit skala kecil di 7 desa pada 5 provinsi (Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Aceh, Sumatera Barat dan Riau) sejak Januari hingga April 2020.

“Studi yang dilakukan PKPA menunjukkan bahwa anak masih memiliki kerentanan pada masyarakat petani sawit skala kecil. Partisipasi dan perlindungan anak masih sangat rendah, akses terhadap ketrampilan dan kecakapan hidup juga rendah sehingga menimbulkan tren pernikahan di usia muda. Tidak hanya itu, keluarga juga umumnya melibatkan anak dalam mengelola kebun setelah anak pulang dari sekolah tanpa ada prosedur identifikasi, penilaian risiko, dan dampak,” jelas Keumala Dewi dalam pemaparannya.

Menanggapi temuan-temuan dalam studi yang dilakukan PKPA, Sigit Iko selaku konsultan perumusan konsep dan salah satu narasumber dalam seminar nasional ini memaparkan salah satu solusi yang ditawarkan, yaitu ‘Wigatra: Sawit Keluarga Tangguh Ramah Anak’ yang bertujuan untuk membentuk keluarga tangguh sebagai pemilik dan pengelola perkebunan kelapa sawit keluarga yang peduli dan bertanggung jawab atas hak serta masa depan anak yang lebih baik.

“Keluarga tangguh juga memiliki kemampuan mengelola perkebunan kelapa sawit sebagai sumber penghasilannya secara baik, menguntungkan, taat pada aturan yang berlaku sehingga terwujudlah sebuah usaha perkebunan skala keluarga yang berkelanjutan,” paparnya.

Mengakhiri diskusi, Achmad Marzuki, Direktur Eksekutif JARAK menyampaikan bahwa pendekatan yang sedang dikembangkan PAACLA Indonesia saat ini adalah mewujudkan “Desa Ramah Anak” dengan tujuan khusus, mengurangi pekerja anak di sektor tembakau. “PAACLA tetap berkomitmen untuk melakukan pendekatan yang holistik dan melibatkan multipihak dalam upaya menangani isu anak karena isu anak tidak bisa ditangani satu pihak dan ada kebutuhan untuk regenerasi pertanian,” ujarnya menutup diskusi siang ini.

 

(Tim PKPA/PAACLA)