Jurnalisme Warga: Menulislah, Selayaknya Kita Bertutur

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Mood dan waktu menjadi halangan saat memulai menulis, jawab Anggun, peserta yang merupakan perwakilan dari Forum Anak Desa Wringintelu, Jember. Respon ini merupakan hasil dari pancingan pemateri, Rino Hayyu waktu menanyakan apa yang menjadi tantangan saat menulis. Ya, tantangan yang dialami oleh sebagian banyak peserta yang bergabung di kelas daring Jurnalisme Warga saat Selasa, 3 November 2020. Kegiatan yang dirancang untuk memberikan penguatan keterampilan menulis bagi para kader desa Program KESEMPATAN.

Sudah setahun Program KESEMPATAN ini berjalan di NTB dan Jawa Timur, ada banyak informasi yang tersedia di desa-desa dampingan karena kegiatan sudah makin variatif. Pusat Kegiatan Masyarakat (PKM)  sudah makin aktif, sosialisasi tentang pekerjaan berbahaya untuk anak bagi orang tua sudah berjalan, pembahasan peraturan desa juga mulai intens, kisah-kisah pendampingan anak dan keluarga juga menarik disimak. Jadi, sebenarnya selalu ada cerita baru yang bisa disajikan oleh para kader di desa. Namun rasa tidak percaya diri bahwa mereka bisa menulis dengan gaya dan pilhan bahasa yang unik, bisa jadi menjadi tantangan selain dua hal yang disebutkan salah satu peserta.

Pemateri kelas Jurnalisme Warga ini, Rino Hayyu merupakan jurnalis media onlen Kumparan.ID yang berhasil meramu teknik menulis dengan cara yang sederhana. Dalam penyampaiannya, menulis itu perlu dilakukan untuk menjadikan peristiwa-peristiwa yang kita alami menjadi sejarah yang bisa dibaca ulang karena tersimpan dalam media. Berbeda jika kita hanya menyimpan dalam memori otak yang terbatas menerima informasi. Jika tulisan ini diunggah dalam media sosial, sangat mungkin kita mencari dan menemukan jejak tulisan itu. Lebih lanjut jejak tulisan itu dapat dijadikan sebagai sumber belajar bersama.

Dalam prosesnya masih didapati keraguan peserta untuk menulis, yakni kekhawatiran tidak dapat memenuhi unsur menulis yang baik, 5W dan 1 H. Pemateri menyampaikan bahwa unsur  5W dan 1 H itu untuk memandu informasi yang akan kita sampaikan, tetapi pilihan kata dan gaya menulis, tetap bisa dipilih sesuai karakter masing-masing. Sehingga penulis dapat leluasa mengeksplorasi pengalamannya dengan berkisah melalui Jurnalisme Warga. Sembari berdialog bersama peserta, pemateri juga mengajak praktik menulis.

Diawali pengisahan dari gambar kegiatan oleh Dodi, peserta dari NTB, ia menceritakan kegiatan yang dimaksud secara lisan dan pemateri menarasikannya melalui tulisan. Hasilnya, tutur atau kisah yang disampaikan peserta kini tersaji dalam bentuk tulisan yang menarik dan bermakna. Apresiasi yang besar ditujukan kepada peserta dan pemateri, disampaikan oleh Beti.MC (JARAK), penyelenggara kelas daring ini.  Materi menulis yang baru pertama kali diberikan kepada kader mampu menarik minat sampai akhir sesi. Sejumlah 24 orang yang terdiri atas kader dan mitra program bergabung untuk menerima materi dan kobaran semangat dari pemateri. Lewat penyampaian pemateri bahwa Jurnalisme Warga bertujuan untuk mengundang percakapan warga dan mengundang untuk saling bertukar informasi, sehingga penulis  dapat lentur mengekspresikan diri dan tetap memberikan pesan melalui tulisan.

Diakhir sesi, Rino Hayyu berpesan agar menghargai apapun pilihan kata (diksi) yang dimiliki, karena dari sanalah pintu berkembangnya tulisan menjadi lebih dalam dan bermakna.

Selamat memulai Gerakan Jurnalisme Warga, ada banyak kisah dari desa yang bisa menginspirasi kita semua.

Salam.

(Vbl)