Seknas PAACLA Indonesia Memperkuat Kemitraan di NTB

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Memperkuat dan memperluas kemitraan dalam penanggulangan pekerja anak, merupakan mandat utama PAACLA Indonesia (Partnership for Action Againts Child Labour in Agriculture). Kemitraan tidak hanya perlu dibangun pada level nasional, namun sangat strategis untuk dibangun hingga tingkat provinsi dan kabupaten. Menyadari pentingnya mandat itu, Kepala Sekretariat Nasional (Seknas) PAACLA Indonesia, Misran Lubis, selama Agustus 2020 melakukan serangkaian kunjungan ke Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Jawa Timur (Jatim). Kunjungan pertama dilakukan ke NTB selama 5 hari, mulai tanggal 11 sampai 15 Agustus 2020, dan kunjugan kedua ke Jatim tanggal 24 – 28 Agustus 2020.

Agenda utama dari kunjungan ini adalah untuk memperkenalkan PAACLA Indonesia sebagai forum kemitraan multipihak baik pemerintah, sektor bisnis dan organisasi masyarakat. Di samping agenda utama tersebut, kunjungan juga bertujuan untuk sosialisasi instrumen internasional mengenai hak-hak anak dan prinsip-prinsip bisnis (CRBP), dan kebijakan perlindungan anak (Child Safeguarding) JARAK-Indonesia.

Komitmen Pemerintah Lombok Timur

Pihak pertama yang dikunjungi Seknas PAACLA Indonesia di NTB adalah pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Di wilayah ini terdapat dua desa yang menjadi sasaran program KESEMPATAN (Kemitraan untuk aksi penanggulangan pekerja anak di pertanian), kerjasama antara JARAK dan Yayasan SANTAI-NTB, atas dukungan ECLT. Kunjungan Seknas PAACLA Indonesia diterima oleh Staf Khusus Bupati Lombok Timur H. Suroto SKM., M.Kes, Nis Rukian Tuhulele (Kasubdit Pemerintahan dan Kemasyarakatan, Bappeda), dan Hazrin (Kabid Perlindungan Anak DP3AKB). Seknas PAACLA Indonesia didampingi oleh Dodik selaku Koordinator Program KESEMPATAN-Yayasan SANTAI, dan Tejo Jatmiko selaku konsultan ECLT.

Mengingat masih dalam situasi pandemi, pertemuan dilakukan di tempat yang terbuka dan memungkinkan beberapa orang bergabung dalam diskusi. Dalam suasana yang bersahabat, Misran Lubis memperkenalkan konsep kemitraan tiga pilar yang terdiri atas Pemerintah, Sektor Bisnis, dan Organisasi Masyarakat Sipil dalam Penanggulangan Pekerja Anak di sektor pertanian dan menjelaskan Program KESEMPATAN di NTB khususnya di Lombok Timur. Seknas PAACLA Indonesia  berharap konsep kemitraan PAACLA Indonesia dapat dikembangkan di wilayah ini.

H. Suroto mewakili pemerintah Lombok Timur menyambut baik kehadiran PAACLA Indonesia dan kegiatan Program KESEMPATAN yang diimplementasikan di dua desa. Menurutnya kemitraan adalah satu keharusan karena kompleksitas persoalan anak maupun pekerja anak di Lombok Timur, ditambah lagi dengan dampak Covid-19 yang sangat berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat. Hal yang sama juga disampaikan oleh Nis Rukian Tuhulele mewakili Bappeda Lombok Timur. Pihak Bappeda sangat mendukung dan akan mengkoordinasikan dengan Kepala Bappeda terkait rencana membangun kemitraan di Lombok Timur. Karena di tingkat nasional PAACLA Indonesia dikoordinir oleh Bappenas, maka di Lombok Timur juga akan difasilitasi oleh Bappeda. Di akhir pertemuan H.Suroto menyampaikan, “KEMITRAAN ITU HARI INI BUKAN BESOK”, sebagai penyemangat untuk menindaklanjuti kesepakatan yang telah terjalin.

Dukungan Sektor Bisnis

Sektor bisnis merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan, termasuk dalam pembangunan kesejahteraan anak. Gunilla Olsson, Kepala Perwakilan  UNICEF Indonesia menyatakan “Semua perusahaan, baik bisnis keluarga skala kecil maupun perusahaan multinasional skala besar berkontribusi terhadap kesejahteraan anak melalui penciptaan lapangan kerja bagi keluarga mereka atau juga melalui inisiatif-inisiatif yang bersifat filantropi. Namun di sisi lain, praktik bisnis juga dapat berdampak  kurang  positif terhadap anak-anak”. Lombok Timur merupakan salah satu wilayah pertanian tembakau di NTB. Di sektor pertanian tembakau diindikasikan banyak anak-anak yang terlibat dalam berbagai bentuk pekerjaan, termasuk dalam pekerjaan yang berbahaya bagi anak. Maka upaya-upaya pencegahan pekerja anak di sektor pertanian tembakau, sangat penting melibatkan perusahaan sebagai “buyer” dan sebagai pihak yang sangat berkepentingan terhadap produk pertanian tembakau.

Dalam kunjungan ke NTB, Seknas PAACLA Indonesia berkesempatan mengunjungi dan melakukan diskusi dengan PT. AOI dan PT. Djarum. Kunjungan ke kantor PT. AOI dilakukan oleh Tejo Jatmiko untuk memperkuat dukungan dari sektor bisnis. Dalam diskusi tersebut, PT. AOI menyampaikan masukan untuk pelatihan yang berbeda bagi leaf technician dan petani terkait isu pekerja anak.   Sementara kunjungan ke PT. Djarum, tim diterima oleh Latif selaku Deputi Manajer dan didampingi Sahminudin, Ketua Asosiasi Petani Tembaku Indonesia (APTI) NTB. Dalam pertemuan ini disampaikan informasi tentang PAACLA Indonesia dan Program KESEMPATAN yang dilakukan di wilayah Lombok Tengah dan Lombok Timur. Seknas PAACLA juga menyampaikan bahwa ada rencana untuk pengembangan PAACLA di Lombok Timur, di mana hal ini telah dibahas bersama Pemerintah Lombok Timur pada kunjungan sebelumnya.

Merespon kunjungan ini, Latif menyampaikan terima kasih dan menjelaskan kontribusi PT. Djarum dalam upaya mencegah pekerja anak dan kegiatan sosial lainnya, seperti pembinaan olahraga dan beasiswa, serta pembinaan di lingkungan petani. Bagi PT. Djarum kerjasama di tingkat lokal sangat penting dan pihaknya membuka diri untuk melanjutkan koordinasi ini dan, mempersilahkan SANTAI maupun PAACLA Indonesia mengundang perusahaannya jika ada pertemuan-pertemuan yang dilakukan di NTB. Namun untuk kemitraan di tingkat nasional, dirinya akan mendiskusikan dengan manajer dan kantor pusat di Kudus, Jawa Tengah. Di akhir pertemuan, Seknas PAACLA memberikan buku pedoman PAACLA Indonesia kepada PT. Djarum sebagai langkah memulai kemitraan dengan lembaga baru.